Minggu, 03 Maret 2013

Mengenang Kekalahan di Bukit Uhud




 Tahun ketiga hijrah Rasulullah SAW menjadi pelajaran yang sangat penting bagi kaum Muslimin. Saat itu terjadi perang Uhud yang hasilnya umat Islam dikalahkan.
Saat itu pasukan kaum musyrik sekitar 3.000 orang dan pasukan Muslimin 700 orang. Tapi bukan selisih jumlah pasukan ini yang menjadi faktor utama kekalahan.

Saat itu, Rasulullah SAW mengutus 50 orang pasukan pemanah untuk tetap di bukit dan terus memanah kaum musyrik supaya tidak sampai mengepung kaum Muslim. Apapun yang terjadi, mereka tidak boleh meninggalkan tempat yang ditunjuk Rasulullah SAW.
Aquran Surat Ali Imran ayat 152-153 mengisahkan perang ini dengan sangat berkesan. Saat mulai terdesak, musuh-musuh Islam ini minggir dengan meninggalkan hartanya begitu saja.
Rupanya, para pasukan pemanah tergoda dan akhirnya turun dari bukit untuk mengambil harta rampasan perang. Saat itulah musuh Islam berbalik menguasai bukit dan menyerang kaum Muslim.

Kondisi menjadi berbalik, kaum Muslim terdesak. Rasulullah SAW dalam sebuah riwayat disebutkan sampai giginya patah dan terluka bibirnya.
Hamzah bin Abdul Muthalib yang tidak lain adalah paman Rasulullah SAW ikut gugur. Kekalahan ini menjadi pelajaran penting bagi umat Islam untuk kemudian menggapai banyak kemajuan di masa-masa berikutnya.

Kini, makam para syuhada Perang Uhud menyisakan bekas berupa makam di hamparan tanah seluas lapangan sepak bola. Hamparan ini berada tepat di bawah bukit yang saat ini disebut Jabal Rummah (bukit pemanah).

Di hamparan itu terdapat dua jajaran batu yang membentuk empat persegi panjang. Satu bagian di bagian tengah, dan satunya lagi di pinggir bagian utara kompleks pemakaman para syuhada.
Di sekeliling makam terpasang pagar tinggi dan dilapisi plastik buram. Beberapa bagian plastik terlihat pecah dan berlubang. Dari sinilah para pengunjung bisa melihat bagian dalam komples pemakaman.
Seorang penjaga makam syuhada Uhud, Mustofa, mengungkapkan di hamparan itu terdapat 70 syuhada Perang Uhud yang dimakamkan. “Ada di antaranya makam Hamzah bin Abdul Muthalib,” tutur Mustafa.

Cuma, Mustafa mengaku tidak tahu persis di sebelah mana Hamzah dimakamkan. Dia hanya menyebut sederet nama syuhada tanpa merinci lokasinya secara persis satu per satu. Setelah itu dia memimpin doa ziarah kepada para pengunjung Kamis (28/2) lalu.

Selain dari pagar yang berlubang, sebenarnya bagian dalam kompleks pemakaman para syuhada ini bisa disaksikan secara keseluruhan dari Jabal Rummah.

Pengunjung bisa dengan mudah mendaki bukit kecil yang ketinggiannya sekitar 10 meter dari hamparan tanah di sekitarnya. Bukit ini berupa bukit batu yang sebagian sisinya berundak sehingga memudahkan pengunjung untuk mendakinya sampai puncak.

Dari bukit pemanah juga terlihat barisan bukit Uhud yang membentang dari timur ke barat. Lebar bentangan bukit Uhud ini secara keseluruhan sekitar tujuh kilometer. Bukit Uhud ini memiliki tiga puncak paling tinggi. Secara keseluruhan wilayah Uhud berada di sebelah utara Masjid Nabawi, di kota Madinah, dan tidak terlalu jauh.

Jika dijangkau dengan taksi, dari Masjid Nabawi hanya perlu waktu sekitar 10 menit untuk sampai bukit Uhud. Tarif taksinya rata-rata 10 riyal (Rp 27 ribu). Taksi di Madinah tidak seperti taksi di Jakarta.

Di kota ini, setiap kendaraan yang melintas bisa menjadi taksi, asalkan berhenti saat ada penumpang yang menyetop. Memang ada taksi yang jelas bertuliskan taksi dan tanda lampu di atapnya, tapi kebanyakan juga tidak berargo.

Sementara ini, kompleks Uhud hanya rampai dipadati pengunjung hingga pukul 12.00 waktu setempat (atau sekitar waktu shalat Dzuhur). Setelah itu, kompleks Uhud kembali sepi.

Ini terjadi karena di lokasi tersebut belum tersedia masjid yang representatif, sehingga saat azan berkumandang para pengunjung langsung bergegas meninggalkannya untuk bisa shalat di Masjid Nabawi.

Sejak selepas musim Haji tahun lalu, 2012, di area Uhud mulai dibangun masjid besar. Letaknya berseberangan dengan Jabal Rummah, dekat dengan jalan masuk ke pemakaman syuhada.

Masjid ini diharapkan bisa menjadi tempat para pengunjung bisa bertahan di Uhud sampai sore. Saat azan berkumandang mereka bisa tetap shalat tanpa harus meninggalkan kompleks Uhud.

selengkapnya

Selasa, 12 Februari 2013

Sekilas tentang Mekah



Makah adalah tanah Haram yang dikukuhkan Allah sejak Langit dan bumi diciptakan, negeri yang dicintai Allah dan rastlNya serta menjadi kiblat kaum Muslimin.  Makah merupakan kota pertama di muka bumi karena menjadi tempat menetap Adan Hawa setelah bertemu di Jabal Rahmah.  Dari sini manusia berkembang biak dan menyebar ke seluruh penjuru.
Ketika Adam tinggal di Makah pertama kali beliau meminta kepada Allah agar diselamatkan dari godaan Iblis yang telah mencelakakannya di syurga. Allah mengabulkan doanya kemudian memerintahkan malaikat turun ke bumi mengelilingi tempat nabi Adam menjaganya agar iblis tidak dapat mencapainya. Tempat malaikat berjaga itu kemudian menjadi batas Tanah Haram.

Selanjutnya Nabi Ibrahim as dengan menancapkan tapal batas di tempat-tempat yang ditunjukkan oleh Malaikat Jibril.  Ada 943 tanda batas yang ditancapkan di atas bukit, lembah dan tempat lain.  Pada saat Futuh Makah, Rasulullah mengutus Tamim bis Asad untuk memperbaharui tapal batas tersebut.

Ketika rasulullah mendapatkan kemenangan dari Allah dengan menaklukan kota Makah, Rasulullah SAW berdiri di hadapan manusia menyampaikan pidatonya ”Sesungguhnya Allah telah melarang tentara bergajah masuk ke Mekah, dan Allah telah menaklukan Mekah untuk RasulNya dan orang yang beriman. Dan sesungguhnya tidak dihalalkan bagi orang sebelumku untuk menyerbu Makah. Hanya dihalalkan satu saat khusus untukku pada hari ini, dan sesungguhnya tidak dihalalkan untuk siapapun setelahku……”. Demikianlah kekhususan kota Makah yang berlaku hingga akhir jaman kelak.

Allah telah memberikan jaminan keamanan kepada seluruh makhluk yang ada Mekah. Pahala amalan di sana berlipat ganda dibandingkan dilakukan di tempat lain. Shalat di Masjidil haram 100.000 kali lebih utama dibandingkan di tempat lain. Namun demikian, dosa berbuat kejahatan di Mekah juga akan dilipatgandakan oleh Allah, sehingga seorang Muslim hendaknya menjauhkan diri dari berbuat maksiat di Mekah.


selengkapnya

Senin, 24 Desember 2012

HAJI MABRUR DAN PENCAPAIANNYA MENURUT KACAMATA ISLAM

PENDAHULUAN Haji adalah merupakan ibadat fardhu yang diwajibkan, tetapi kewajipan haji agak berlainan dengan ibadat-ibadat yang lain dari segi konsep dan kefardhuannya, di mana ibadat haji hanya diwajibkan ke atas umat Islam yang berkemampuan mengunjungi Baitullahil Haram di Makkah. Ada pun orang-orang yang tidak berkemampuan dari segi perbelanjaan, kesehatan tubuh badan dan keselamatan perjalanan, maka tidak diwajibkan atau dengan arti kata lain tidak dikira salah karana tidak melakukannya. Firman Allah dalam surah Aali Imran ayat 97 yang bermaksud :- " Dan Allah mewajibkan manusia mengerjakan ibadat Haji dengan mengunjungi Baitullah yaitu siapa yang mampu sampai kepadanya " MANUSIA DAN IBADAT HAJI Rata-rata umat Islam mengakui tentang kewajipan ibadat Haji yang difardhukan, jika ada umat Islam yang menentang dan mengingkari kefardhuannya maka kufurlah ia. Walau bagaimana pun, umat Islam pada keseluruhannya berkaitan dengan ibadah haji ini terbahagi kepada beberapa golongan : - Golongan yang berkemampuan untuk mengerjakan ibadah Haji sehingga mereka telah mengerjakannya beberapa kali dan berkemampuan untuk mengerjakannya beberapa kali lagi jika mereka mau. - Golongan yang hanya berkemampuan untuk menunaikan ibadah Haji walaupun sekali sahaja dalam hidupnya, samula telah dikerjakan atau akan dikerjakan. - Golongan yang langsung tidak berkemampuan untuk menunaikan ibadah Haji walaupun sekali dalam hidup sedangkan keinginan dan cita-cita tetap ada. - Golongan yang berkemampuan dari segi perbelanjaan dan seumpamanya tetapi belum lagi mengerjakan ibadat Haji dan tidak pernah terlintas untuk mengerjakannya walaupun ia telah berkesempatan ke tempat-tempat lain yang lebih jauh dari pada itu. Golongan yang keempat inilah yang dibimbangi akan mati sebagai seorang Yahudi atau Nasrani. Ini berdasarkan hadis Rasulullah S.A.W yang diriwayatkan oleh Al Hakim dari pada Sayidina Ali yang bermaksud : " Siapa yang memiliki perbelanjaan yang melebihi dari keperluannya dan mencukupi untuk perbelanjaan menunaikan ibadah Haji serta mempunyai kendaraan yang boleh membawanya ke Baitullah dan tidak mengerjakan Haji, maka tidak ada apa yang menghalanginya dari mati sebagai seorang Yahudi atau Nasrani " TINGKATAN IBADAH HAJI Hampir sama seperti ibadah sembahyang dan puasa, ibadah Haji mempunyai empat peringkat yang berbeda :- - Haji Mardud Haji mardud ialah haji yang tidak diterima olah Allah SWT lantaran karena kekurangan syarat-syarat dan rukunnya atau sebab-sebab yang lain yang menyebabkan hajinya tidak diterima atau ditolak oleh Allah SWT. - Haji Maqbul Ialah haji yang sah dan diterima oleh Allah SWT dan orang yang mengerjakan haji maqbul ini dianggap sebagai telah menunaikan perintah Allah dan telah menyempurnakan rukun Islam yang ke lima tanpa diberi ganjaran pahala. - Haji Makhsus Ibadah haji yang dikerjakan oleh orang-orang yang tertentu yang sempurna segala syarat dan rukunnya, ia bukan sahaja sekadar dianggap sah dan diterima oleh Allah tetapi diampunkan segala dosanya. Haji ini termasuk ke dalam apa yang disabdakan oleh Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Bukhari, Ibnu Majah, An-Nasai dan Ahmad daripada Abu Hurairah yang bermaksud : " Siapa yang menunaikan ibadah Haji, tidak ia melakukan keburukan dan kekejian, maka kembalilah ia seperti hari yang dilahirkan oleh ibunya " - Haji Mabrur Inilah tingkatan haji yang paling tinggi dan istimewa, tidak semua boleh mendapatkannya. Haji ini bukan saja sekadar dianggap menunaikan kewajipan, tetapi selain dari diampunkan segala dosanya, ia juga akan dimasukkan ke dalam syurga. Sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh At-Tabrani daripada Abdullah b. Abas yang bermaksud : " Haji mabrur itu, tidak ada balasan baginya melainkan Syurga " PENGERTIAN HAJI MABRUR Haji adalah ibadah khusus, salah satu di antara rukun yang ke lima. Mengikut pengertian syarak, haji ialah mengunjungi Baitullahil Haram dalam bulan-bulan haji kerana mengerjakan tawaf, sai'e dan wukuf di Arafah dengan syarat yang tertentu dan menunaikan segala perkara -perkara yang wajib yang berkaitan dengannya. Adapun perkataan "MABRUR" di segi pengertian bahasanya ialah perbuatan yang tidak ada syubahat atau keraguan padanya atau hanya diartikan dengan makna yang diterima. Makna Haji Mabrur pada istilah ialah haji yang diterima dan balasannya yang luarbiasa iaitu Syurga, manakala lawannya ialah Haji Mardud iaitu haji yang ditolak dan tidak diterima. SYARAT-SYARAT HAJI MABRUR Untuk mencapai tingkatan haji yang mabrur, tidak semudah seperti yang disangkakan tetapi tidak mustahil untuk mendapatkannya. Ia memerlukan beberapa syarat yang tertentu berdasarkan masa-masa tertentu. Sebelum Menunaikan Haji Ada beberapa perkara yang seharusnya dikerjakan sebelum berangkat menunaikan fardhu haji iaitu : - Niat Niat semata-mata kerana Allah, jangan sekali dicampur-adukkan dengan perasaan riak dan takbur. Sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim daripada Umar Al-Khattab yang bermaksud " Sesungguhnya segala perbuatan itu bergantung kepada niat, dan sesungguhnya bagi setiap seorang itu apa yang diniatkan " - Wang Perbelanjaan Wang yang digunakan untuk tujuan keperluan bagi menunaikan ibadat Haji hendaklah daripada wang yang halal, jangan sekali dicampur-adukkan dengan sesuatu yang haram atau yang syubahat. - Kewajipan Yang Sempurna Setelah cukup syarat yang mewajibkan seseorang itu menunaikan Haji tanpa memaksa diri sendiri untuk menunaikan haji sebelum ia berkemampuan untuk sampai kepadanya. Semasa Mengerjakan Haji Semasa mengerjakan Haji juga perlu menjaga beberapa perkara : - Menyempurnakan segala rukun-rukun Haji - Menyempurnakan segala perkara-perkara wajib Haji - Membayar segala jenis dam yang dikenakan - Tidak melakukan larangan ketika berihram Haji seperti persetubuhan, kemaksiatan dan kemungkaran. Firman Allah SWT dalam Surah Al-Baqarah ayat 197 yang bermaksud : " Masa untuk mengerjakan Ibadah Haji itu ialah beberapa bulan termaklum, oleh yang demikian sesiapa yang telah mewajibkan dirinya dengan niat mengerjakan Ibadah Haji itu, maka tidak boleh mencampuri dan tidak boleh membuat maksiat dan tidak boleh bertengkar dalam masa mengerjakan Haji " Selepas Menunaikan Haji Orang yang telah menunaikan Haji, dianggap telah membersihkan dirinya daripada segala dosa dan kesalahan, setelah menunaikan Ibadah Haji khasnya setelah kembali ke Tanah Air maka beberapa perkara perlu diawasi : - Mengekalkan diri sentiasa dalam keadaan bersih dari sebarang noda dan dosa dengan menjauhkan perkara-perkara mungkar yang dilarang. - Memperbanyakkan amal soleh untuk meningkatkan iman dan ketaqwaan - Memperbaiki diri ke arah yang lebih sempurna di segi akhlak dan kelakuan Dengan terlaksananya segala apa yang dinyatakan seperti di atas, maka besar kemungkinan seseorang itu akan mencapai ke tahap Haji Mabrur yang diidamkan oleh setiap pengunjung Baitullahil Haram. PENUTUP Dengan uraian yang ringkas ini, diharap akan dapat memberikan satu gambaran tentang Haji Mabrur dan pencapaiannya atau sekurang-kurangnya dapat dijadikan sebagai panduan untuk mencapai Haji Mabrur. Didoakan semoga kita semua akan dikurniakan taufik dan hidayah serta kemampuan untuk melaksanakan Ibadah Haji dengan sempurna dan penuh ketaqwaan, terhindar dari sifat riak yang merosakkan amalan. Kepada Allah diserahkan segala urusan dan kepada Allah dipohonkan ganjaran di atas setiap amal yang dikerjakan.
selengkapnya

Selamat Tahun Baru 2013 !!! .

 
Powered by Blogger