Senin, 24 Desember 2012

HAJI MABRUR DAN PENCAPAIANNYA MENURUT KACAMATA ISLAM

PENDAHULUAN Haji adalah merupakan ibadat fardhu yang diwajibkan, tetapi kewajipan haji agak berlainan dengan ibadat-ibadat yang lain dari segi konsep dan kefardhuannya, di mana ibadat haji hanya diwajibkan ke atas umat Islam yang berkemampuan mengunjungi Baitullahil Haram di Makkah. Ada pun orang-orang yang tidak berkemampuan dari segi perbelanjaan, kesehatan tubuh badan dan keselamatan perjalanan, maka tidak diwajibkan atau dengan arti kata lain tidak dikira salah karana tidak melakukannya. Firman Allah dalam surah Aali Imran ayat 97 yang bermaksud :- " Dan Allah mewajibkan manusia mengerjakan ibadat Haji dengan mengunjungi Baitullah yaitu siapa yang mampu sampai kepadanya " MANUSIA DAN IBADAT HAJI Rata-rata umat Islam mengakui tentang kewajipan ibadat Haji yang difardhukan, jika ada umat Islam yang menentang dan mengingkari kefardhuannya maka kufurlah ia. Walau bagaimana pun, umat Islam pada keseluruhannya berkaitan dengan ibadah haji ini terbahagi kepada beberapa golongan : - Golongan yang berkemampuan untuk mengerjakan ibadah Haji sehingga mereka telah mengerjakannya beberapa kali dan berkemampuan untuk mengerjakannya beberapa kali lagi jika mereka mau. - Golongan yang hanya berkemampuan untuk menunaikan ibadah Haji walaupun sekali sahaja dalam hidupnya, samula telah dikerjakan atau akan dikerjakan. - Golongan yang langsung tidak berkemampuan untuk menunaikan ibadah Haji walaupun sekali dalam hidup sedangkan keinginan dan cita-cita tetap ada. - Golongan yang berkemampuan dari segi perbelanjaan dan seumpamanya tetapi belum lagi mengerjakan ibadat Haji dan tidak pernah terlintas untuk mengerjakannya walaupun ia telah berkesempatan ke tempat-tempat lain yang lebih jauh dari pada itu. Golongan yang keempat inilah yang dibimbangi akan mati sebagai seorang Yahudi atau Nasrani. Ini berdasarkan hadis Rasulullah S.A.W yang diriwayatkan oleh Al Hakim dari pada Sayidina Ali yang bermaksud : " Siapa yang memiliki perbelanjaan yang melebihi dari keperluannya dan mencukupi untuk perbelanjaan menunaikan ibadah Haji serta mempunyai kendaraan yang boleh membawanya ke Baitullah dan tidak mengerjakan Haji, maka tidak ada apa yang menghalanginya dari mati sebagai seorang Yahudi atau Nasrani " TINGKATAN IBADAH HAJI Hampir sama seperti ibadah sembahyang dan puasa, ibadah Haji mempunyai empat peringkat yang berbeda :- - Haji Mardud Haji mardud ialah haji yang tidak diterima olah Allah SWT lantaran karena kekurangan syarat-syarat dan rukunnya atau sebab-sebab yang lain yang menyebabkan hajinya tidak diterima atau ditolak oleh Allah SWT. - Haji Maqbul Ialah haji yang sah dan diterima oleh Allah SWT dan orang yang mengerjakan haji maqbul ini dianggap sebagai telah menunaikan perintah Allah dan telah menyempurnakan rukun Islam yang ke lima tanpa diberi ganjaran pahala. - Haji Makhsus Ibadah haji yang dikerjakan oleh orang-orang yang tertentu yang sempurna segala syarat dan rukunnya, ia bukan sahaja sekadar dianggap sah dan diterima oleh Allah tetapi diampunkan segala dosanya. Haji ini termasuk ke dalam apa yang disabdakan oleh Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Bukhari, Ibnu Majah, An-Nasai dan Ahmad daripada Abu Hurairah yang bermaksud : " Siapa yang menunaikan ibadah Haji, tidak ia melakukan keburukan dan kekejian, maka kembalilah ia seperti hari yang dilahirkan oleh ibunya " - Haji Mabrur Inilah tingkatan haji yang paling tinggi dan istimewa, tidak semua boleh mendapatkannya. Haji ini bukan saja sekadar dianggap menunaikan kewajipan, tetapi selain dari diampunkan segala dosanya, ia juga akan dimasukkan ke dalam syurga. Sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh At-Tabrani daripada Abdullah b. Abas yang bermaksud : " Haji mabrur itu, tidak ada balasan baginya melainkan Syurga " PENGERTIAN HAJI MABRUR Haji adalah ibadah khusus, salah satu di antara rukun yang ke lima. Mengikut pengertian syarak, haji ialah mengunjungi Baitullahil Haram dalam bulan-bulan haji kerana mengerjakan tawaf, sai'e dan wukuf di Arafah dengan syarat yang tertentu dan menunaikan segala perkara -perkara yang wajib yang berkaitan dengannya. Adapun perkataan "MABRUR" di segi pengertian bahasanya ialah perbuatan yang tidak ada syubahat atau keraguan padanya atau hanya diartikan dengan makna yang diterima. Makna Haji Mabrur pada istilah ialah haji yang diterima dan balasannya yang luarbiasa iaitu Syurga, manakala lawannya ialah Haji Mardud iaitu haji yang ditolak dan tidak diterima. SYARAT-SYARAT HAJI MABRUR Untuk mencapai tingkatan haji yang mabrur, tidak semudah seperti yang disangkakan tetapi tidak mustahil untuk mendapatkannya. Ia memerlukan beberapa syarat yang tertentu berdasarkan masa-masa tertentu. Sebelum Menunaikan Haji Ada beberapa perkara yang seharusnya dikerjakan sebelum berangkat menunaikan fardhu haji iaitu : - Niat Niat semata-mata kerana Allah, jangan sekali dicampur-adukkan dengan perasaan riak dan takbur. Sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim daripada Umar Al-Khattab yang bermaksud " Sesungguhnya segala perbuatan itu bergantung kepada niat, dan sesungguhnya bagi setiap seorang itu apa yang diniatkan " - Wang Perbelanjaan Wang yang digunakan untuk tujuan keperluan bagi menunaikan ibadat Haji hendaklah daripada wang yang halal, jangan sekali dicampur-adukkan dengan sesuatu yang haram atau yang syubahat. - Kewajipan Yang Sempurna Setelah cukup syarat yang mewajibkan seseorang itu menunaikan Haji tanpa memaksa diri sendiri untuk menunaikan haji sebelum ia berkemampuan untuk sampai kepadanya. Semasa Mengerjakan Haji Semasa mengerjakan Haji juga perlu menjaga beberapa perkara : - Menyempurnakan segala rukun-rukun Haji - Menyempurnakan segala perkara-perkara wajib Haji - Membayar segala jenis dam yang dikenakan - Tidak melakukan larangan ketika berihram Haji seperti persetubuhan, kemaksiatan dan kemungkaran. Firman Allah SWT dalam Surah Al-Baqarah ayat 197 yang bermaksud : " Masa untuk mengerjakan Ibadah Haji itu ialah beberapa bulan termaklum, oleh yang demikian sesiapa yang telah mewajibkan dirinya dengan niat mengerjakan Ibadah Haji itu, maka tidak boleh mencampuri dan tidak boleh membuat maksiat dan tidak boleh bertengkar dalam masa mengerjakan Haji " Selepas Menunaikan Haji Orang yang telah menunaikan Haji, dianggap telah membersihkan dirinya daripada segala dosa dan kesalahan, setelah menunaikan Ibadah Haji khasnya setelah kembali ke Tanah Air maka beberapa perkara perlu diawasi : - Mengekalkan diri sentiasa dalam keadaan bersih dari sebarang noda dan dosa dengan menjauhkan perkara-perkara mungkar yang dilarang. - Memperbanyakkan amal soleh untuk meningkatkan iman dan ketaqwaan - Memperbaiki diri ke arah yang lebih sempurna di segi akhlak dan kelakuan Dengan terlaksananya segala apa yang dinyatakan seperti di atas, maka besar kemungkinan seseorang itu akan mencapai ke tahap Haji Mabrur yang diidamkan oleh setiap pengunjung Baitullahil Haram. PENUTUP Dengan uraian yang ringkas ini, diharap akan dapat memberikan satu gambaran tentang Haji Mabrur dan pencapaiannya atau sekurang-kurangnya dapat dijadikan sebagai panduan untuk mencapai Haji Mabrur. Didoakan semoga kita semua akan dikurniakan taufik dan hidayah serta kemampuan untuk melaksanakan Ibadah Haji dengan sempurna dan penuh ketaqwaan, terhindar dari sifat riak yang merosakkan amalan. Kepada Allah diserahkan segala urusan dan kepada Allah dipohonkan ganjaran di atas setiap amal yang dikerjakan.
selengkapnya

Selasa, 09 Oktober 2012

Mohon Doa Restu Menunaiakan Ibadah Haji 2012

Assalammu'alaikum Wr. Wb. Saudara dan semua kerabat yang dirahmati Allah SWT. Sehubungan dengan rencana keberangkatan saya dan istri ( SUTRISNO ANTONI / YULAIKAH ) untuk menunaikan ibadah haji yang insya Allah akan berangkat tgl 11 Oktober 2012, kami memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada semua kerabat dan handai tolan apabila ada perkataan atau tingkah laku kami yg tidak berkenan selama ini, baik yang sengaja ataupun tidak sengaja. Tidak lupa juga mohon doa restunya agar bisa menjalankan ibadah haji dengan lancar & mendapat ridho Allah SWT serta mendapat haji Mabrur. Amin amin ya Rabbal Alamiin... Wassalam , SUTRISNO ANTONI dan YULAIKAH
selengkapnya

Sabtu, 25 Agustus 2012

Halal bihalal RT 43 RW 4 Jatikerto Kromengan Malang

Halal bihalal, dua kata berangkai yang sering diucapkan dalam suasana Idul Fitri, adalah satu dari istilah-istilah "keagamaan" yang hanya dikenal oleh masyarakat Indonesia. Istilah tersebut seringkali menimbulkan tanda tanya tentang maknanya, bahkan kebenarannya dari segi bahasa , walaupun semua pihak menyadari bahwa tujuannya adalah mencipakan keharmonisan antara sesama manusia demikian yang diungkapkan oleh ustad Anwar dlm acara halal bihalal Rt 43 Tw 4 Jatikerto Kromengan Malang pada tanggal 25 Agustus 2012 Hemat saya, paling tidak ada dua makna yang dapat dikemukakan menyangkut pengertian istilah tersebut, yang ditinjau dari dua pandangan. Yaitu, pertama, bertitik tolak dari pandangan hukum Islam dan kedua berpijak pada arti kebahasan. Menurut pandangan pertama - dari segi hukum - kata halal biasanya dihadapkan dengan kata haram. Haram adalah sesuatu yang terlarang sehingga pelanggarannya berakibat dosa dan mengundang siksa, demikian kata para pakar hukum. Sementara halal adalah sesuatu yang diperbolehkan serta tidak mengundang dosa. Jika demikian, halal bihalal adalah menjadikan sikap kita terhadap pihak lain yang tadinya haram dan berakibat dosa. menjadi halal dengan jalan memohon maaf. Pengertian seperti yang dikemukakan di atas pada hakikatnya belum menunjang tujuan keharmonisan hubungan, karena dalam bagian halal terdapat sesuatu yang dinamai makruh atau yang tidak disenangi dan sebaiknya tidak dikerjakan. Pemutusan hubungan (suami-istri, mislanya) merupakan sesuatu yang halal tapi paling dibenci Tuhan. atas dasar itu, ada baiknya makna halal bihalal tidak dikaitkan dengan pengertian hukum. Menurut pandangan kedua - dari segi bahasa - akar kata halal yang kemudian membentuk berbagai bentukan kata, mempunyai arti yang beraneka ragam, sesuai dengan bentuk dan rangkaian kata berikutnya. Makna-makna yang diciptakan oleh bentukan-bentukan tersebut, antara lain, berarti "menyelesaikan problem", "meluruskan benang kusut", "melepaskan ikatan", dan "mencairkan yang beku".
Jika demikian, ber-hala bihalal merupakan suatu bentuk aktivitas yang mengantarkan pada pelakunya untuk meluruskan benag kusut, menghangatkan hubungan yang tadinya beku sehingga cair kembali, melepaskan ikatan yang membelenggu, serta menyelesaikan kesulitan dan problem yang menghadang terjalinnya keharmonisan hubungan. Boleh jadi hubungan yang dingin, keruh dan kusut tidak ditimbulkan oleh sifat yang haram. Ia menjadi begitu karena Anda lama tidak berkunjung kepada seseorang, atau ada sikap tidal adil yang Anda ambil namun menyakitkan orang lain, atau timbul keretakan hubungan dari kesalhpahaman akibat ucapan dan lirikan mata yang tidak disengaja. Kesemuanya ini, tidak haram menurut pandangan hukum, namun perlu diselesaikan secara baik; yang beku dihangatkan, yang kusut diluruskan, dan yang mengikat dilepaskan. Itulah makna serta substansi halal bihalal, atau jika istilah tersebut enggan anda gunakan, katakanlah bahwa itu merupakan hakikat Idul Fitri, sehingga semakin banyak dan seringnya Anda mengulurkan tangan dan melapangkan dada, dan semakin parah luka hati yang Anda obati dengan memaafkan , maka semakin dalam pula penghayatan dan pengamalan Anda terhadap hakikat halal bihalal . Bentuknya memang khas Indonesia, namun hakikatnya adalah hakikat ajaran Islam.
selengkapnya

Selamat Tahun Baru 2013 !!! .

 
Powered by Blogger