Posted by Pak Goendul on 13.53
Nabi Muhammad SAW pernah mengabarkan kita di beberapa sabda beliau tentang tanda2nya, yaitu:
1. Udara dan suasana pagi yang tenang
Ibnu Abbas radliyallahu’anhu berkata: Rasulullah SAW bersabda:
“Lailatul qadar adalah malam tentram dan tenang, tidak terlalu panas dan tidak pula terlalu dingin, esok paginya sang surya terbit dengan sinar lemah berwarna merah” (Hadist hasan)
2. Cahaya mentari lemah, cerah tak bersinar kuat keesokannya
Dari Ubay bin Ka’ab RA bahwasanya Rasulullah SAW bersabda:
“Keesokan hari malam lailatul qadar matahari terbit hingga tinggi tanpa sinar bak nampan” (HR Muslim)
3. Terkadang terbawa dalam mimpi
Seperti yang terkadang dialami oleh sebagian sahabat Nabi radliyallahu’anhum.
4. Bulan nampak separuh bulatan
Abu Hurairoh RA pernah bertutur: Kami pernah berdiskusi tentang lailatul qadar di sisi Rasulullah SAW, beliau berkata :
“Siapakah dari kalian yang masih ingat tatkala bulan muncul, yang berukuran separuh nampan” (HR. Muslim)
5. Malam yang terang, tidak panas, tidak dingin, tidak ada awan, tidak hujan, tidak ada angin kencang dan tidak ada yang dilempar pada malam itu dengan bintang (lemparan meteor bagi setan).
Sebagaimana sebuah hadits, dari Watsilah bin al-Asqo’ dari RasulullahSAW :
‘Lailatul qadar adalah malam yang terang, tidak panas, tidak dingin, tidak ada awan, tidak hujan, tidak ada angin kencang dan tidak ada yang dilempar pada malam itu dengan bintang (lemparan meteor bagi setan)’ (HR. at-Thobroni dalam al-Mu’jam al-Kabir 22/59 dengan sanad hasan)
6. Orang yang beribadah pada malam tersebut merasakan lezatnya ibadah, ketenangan hati dan kenikmatan bermunajat kepada Rabb-nya tidak seperti malam-malam lainnya
selengkapnya
Posted by Pak Goendul on 12.58
JAKARTA, KOMPAS.com - Hasil uji kompetensi guru (UKG) secara online belum menggambarkan kompetensi guru yang komprehensif. Penyebabnya, UKG online dilaksanakan dalam proses yang tidak baik dan merugikan guru.
Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), Sulistyo, di Jakarta, Sabtu (4/8/2012) ini, mengatakan, para guru mengerjakan UKG online dalam proses yang gelisah. Para guru mengalami kendala yang merugikan mereka, mulai dari banyak soal yang tertukar, tidak ada jawaban yang benar, tidak ada jawaban yang tersedia, namun guru harus tetap menjawab.
Ada juga soal yang mempertanyakan gambar atau tabel, namun tidak muncul. Guru fisika harus mengerjakan IPA terpadu yang banyak materi biologi dan kimia. Ada guru yang baru mengerjakan beberapa nomor, koneksi terputus, tetapi hasilnya langsung diputuskan.
"Hasil UKG online itu belum menggambarkan kompetensi guru yang komprehensif. Sebaiknya hasil UKG yang banyak bermasalah itu dianggap uji coba," kata Sulistyo.
Menurut Sulistyo, Kemendikbud jika mempublikasikan hasil UKG agar bijaksana. UKG hanya mengukur kemampuan kognitif guru, untuk kompetensi pedagogik dan profesional. Kedua kompetensi ini bisa dipelajari.
Adapun kompetensi kepribadian dan sosial sama sekali belum tergambar. Padahal, kedua potensi ini juga berperan penting dalam proses pendidikan, terlebih dalam proses pendidikan karakter.
"Kemendikbud selama ini terlalu mengagung-agungkan angka," kata Sulistyo.
selengkapnya
Posted by Pak Goendul on 12.38
JAKARTA, KOMPAS.com - Hingga hari ketiga, tercatat 373.415 guru TK hingga SMA/SMK telah mengikuti uji kompetensi guru. Dari hasil pengolahan terhadap 243.619 peserta UKG hari pertama dan kedua, nilai rata-rata sementara UKG tergolong rendah, hanya 44,5.
Hal itu dipaparkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh, Jumat (3/8), di Jakarta. ”Ada yang nilainya 91,12. Ada juga yang nol, salah semua,” kata Nuh. Yang diukur dalam UKG bukan hanya kemampuan pedagogi atau metode pengajaran, melainkan juga kapasitas pengetahuan dan pemahaman guru pada bidang ilmunya.
Kepala Badan Pengembangan SDM Pendidikan dan Penjaminan Mutu Pendidik Kemdikbud Syawal Gultom menambahkan, standar nilai minimal yang ditentukan pemerintah adalah 70.
”Namun, hingga hari ketiga, dari 373.415 peserta yang ikut UKG, hanya sekitar 10 persen yang memperoleh nilai di atas 70,” kata Syawal.
Ada 316 kabupaten/kota yang nilai rata-ratanya di bawah rata-rata nasional. Hanya 92 kabupaten/kota yang nilainya di atas rata-rata nasional.
Menurut Nuh, dari hasil UKG itu ada yang menarik. Nilai Bahasa Indonesia untuk guru SMP berada di bawah rata-rata dan nilainya paling rendah daripada mata pelajaran lain. ”Ada yang harus dirombak untuk pengembangan kemampuan Bahasa Indonesia para guru,” katanya.
Biaya Rp 50 miliar
Nuh mengatakan, dari 4.158 tempat uji kompetensi (TUK), hanya 2.344 yang aktif, sedangkan 877 TUK gagal terkoneksi dengan jaringan internet. ”Bagi yang gagal terkoneksi dengan internet akan dihentikan,” kata Nuh.
Syawal menambahkan, soal-soal yang gagal terunduh atau tidak lengkap dalam internet tak akan dinilai. Misalnya, soal-soal yang menggunakan gambar atau grafis. ”Kami sudah menerima keluhan para guru,” ujarnya.
Adapun biaya UKG untuk 1.006.216 peserta, kata Syawal, sekitar Rp 50 miliar. Biaya ini terdiri dari Rp 50.000 untuk biaya pelaksanaan setiap peserta dan Rp 90.000 per hari untuk honor pengawas.
Sementara itu, sejumlah guru peserta UKG yang mengalami kendala dalam mengerjakan soal membuat laporan berita acara yang disampaikan kepada pengawas. Nia Kurniawati, guru SMPN 11 Bandung, misalnya, membuat berita acara karena gambar dan tabel tidak muncul di layar komputer. Guru lain juga melakukan langkah serupa. (LUK/ELN)
selengkapnya